DSCN2055

Incar Peringkat Internasional

*Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB Rumuskan Specific Branding

 

Malang—Usai dinobatkan sebagai peraih peringkat ke-3 sebagai jurusan Ilmu Komunikasi terbaik se-Indonesia, versi QS World University Rankings, jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu  Politik (FISIP) Universitas Brawijaya kini mengincar posisi rangking terbaik di tingkat internasional.

Keinginan untuk menjadi jurusan paling bergengsi di lingkup global itu berusaha diwujudkan secara riil oleh pihak jurusan kendati masih berusia belia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB Bambang Dwi Prasetyo ketika membuka sebuah forum bertajuk “Diskusi Metode Penelitian Komunikasi” di lantai 5 Gedung FISIP UB kemarin (21/9). Menurutnya, jurusan Ilmu Komunikasi saat ini sedang giat-giatnya berusaha meningkatkan kualitas baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi kualitas lulusan.

“Salah satunya dengan cara menyamakan visi tentang metode penelitian diantara para dosen pengajar di jurusan,” terang Bambang. Lebih jauh, doktor bidang Manajemen Komunikasi Bisnis itu menjelaskan, bahwa dengan adanya diskusi maupun pelatihan bagi dosen Ilmu Komunikasi setidaknya ada dua poin penting yang dapat dipetik. Pertama, para dosen yunior dapat memperoleh wawasan tentang paradigma penelitian kontemporer dari para dosen senior yang baru menyelesaikan studinya di luar negeri. Kedua, tambah Bambang, diharapkan nantinya akan ada kesamaan visi dalam pembimbingan skripsi maupun PKN (Praktek Kerja Nyata) mahasiswa sehingga luaran penelitian mereka bisa jauh lebih berkualitas. “Ini penting karena hasil riset mahasiswa akan dipublikasikan di dalam jurnal-jurnal internasional,” ujarnya dengan mimik serius.

Sejalan dengan penjelasan Bambang, Ketua Pelaksana Forum Diskusi Anang Sujoko menegaskan bahwa jurusan Ilmu Komunikasi perlu membingkai ulang serta memperkokoh dasar keilmuan masing-masing pengajar. Tujuannya, agar jurusan dapat menciptakan identitas keilmuan yang kuat.  “We must have different value, unique identity,” tukas doktor bidang media massa tersebut. Bila hal-hal tersebut sudah dicapai, tambah Anang, maka hasil karya akhir mahasiswa maupun hasil karya tulis ilmiah dosen dapat lebih berkualitas serta unik.

Menurutnya, harapan pihak jurusan adalah semakin banyak karya-karya tulis dosen maupun mahasiswa  yang bisa dipublikasikan dan dipresentasikan di jurnal maupun konferensi-konferensi tingkat dunia. “Tahun ini target kita ada empat dosen yang mewakili jurusan untuk mempresentasikan hasil penelitian ilmiahnya di dalam konferensi Ilmu Komunikasi tingkat dunia,” ujar Anang. Namun, menurutnya, tidak menutup kemungkinan jika pihak jurusan turut andil dalam mengangkat isu-isu lokal dalam kegiatan ilmiahnya.

Selain menyamakan visi tentang paradigma-paradigma penelitian, dalam forum diskusi yang dihadiri oleh seluruh staf pengajar jurusan Ilmu Komunikasi tersebut juga membicarakan tentang perlu ditegakkannya etika penulisan serta aspek etis penelitian. Salah satu pembicara, yakni Rachmat Kriyantono, mengungkapkan adanya temuan tentang masih adanya mahasiswa yang kurang memiliki etika dalam melakukan kegiatan penelitian maupun ketika menuliskan laporan penelitiannya. “Saya mencatat adanya karya skripsi yang meragukan keorisinalitasan datanya atau setidaknya sulit dibuktikan antara yang mana data skripsi dan mana hasil PKN (Praktek Kerja Nyata)”, tutur pakar PR itu dengan muka serius. Bahkan, tambahnya, ada mahasiswa yang memalsu data skripsinya padahal mahasiswa tersebut itu tidak pernah turun lapangan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Rachmat panggilan akrab Rachmat Kriyantono, mengusulkan agar mahasiswa menyertakan  LoI (Letter of Information) di dalam laporan penelitiannya,  yang isinya informasi kegiatan penelitian antara lain tujuan, keuntungan bagi partisipan, bagaimana sifat keterlibatan partisipan, kerahasiaan, institusi yang mensponsori hingga nomer kontak pembimbing yang dapat dihubungi. Tak hanya itu, menurut alumnus Edith Cowan University tersebut mahasiswa juga harus menyertakan LoC (Letter of Concent) yang memuat pernyataan bahwa patisipan sudah membaca dan memahami isi LoI yang ditandai dengan adanya tanda tangan mereka.

Sementara itu, untuk menghindari plagiasi karya penulis lain, Rachmat, menegaskan perlunya sosialisasi kembali tentang standar pengutipan APA (American Psychology Association) di jurusan Ilmu Komunikasi. Hal ini menurutnya dapat mendidik mahasiswa untuk bertanggung jawab atas hasil  karya ilmiahnya selain untuk membiasakan dengan standar penulisan artikel ilmiah di tingkat internasional.

Dalam diskusi interaktif yang berlangsung hangat kemarin akhirnya diputuskan untuk melanjutkan kajian tersebut secara kontinyu serta mengajak serta mahasiswa agar tujuan jurusan Ilmu Komunikasi dapat tercapai. (nuans)

SIMPLE SIDE TAB