DSCN3627Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu wujud Tri Darma Perguruan Tinggi. Ia juga merupakan wujud aplikasi ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya adalah agar masyarakat mampu merasakan peran dari perguruan tinggi. Lembaga tersebut bukan menara gading dalam kehidupan manusia. Implementasi pengetahuan melalui pengabdian kepada masyarakat merupakan kontribusi lembaga pendidikan tersebut dalam mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat.

Tentu upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, melainkan juga meliputi segala aspek yang melingkupi kehidupan manusia. Hal ini yang juga ditempuh oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Melalui salah satu staf pengajarnya, Rachmat Kriyantono, Ph.D, telah menelurkan bentuk pengabdian masyarakat dalam bidang kehumasan dan kewartawanan. Bahkan pengabdiannya tersebut diakui oleh dunia internasional. Hal ini dibuktikan oleh keikutsertaannya dalam 3rd International Conference on Language, Media and Cultures di Seoul, Korea Selatan. Acara ini berlangsung pada 12 – 13 April 2014. Konferensi tersebut merupakan ajang presentasi hasil riset dan pengabdian masyarakat dalam bidang bahasa, media, dan budaya. Konferensi ini mempertemukan para sarjana, peneliti, dan ahli pada bidang-bidang tersebut dari seluruh dunia. Kehadiran Rachmat ini membuktikan bahwa pengabdian masyarakat tidak berhenti pada tataran implementasi keilmuan, melainkan justru mengembangkan ilmu pengetahuan itu sendiri. Konferensi ini juga menjadi sarana menjalin kerjasama dengan dunia internasional.

Rachmat Kriyantono sendiri menyampaikan hasil pengabdian masyarakatnya terhadap Perhimpunan Hubungan Masyarakat Kota Malang dan Wartawan di Wiayah Kota Malang. Ia berusaha membangun harmonisasi antara praktisi humas dan wartawan. Berdasarkan observasi yang dilakukan, ia menemukan bahwa kedua kelompok  tersebut selama ini dianggap berseberangan. Adanya ketidakpercayaan dari kelompok wartawan bahwa humas hanya fokus terhadap pembentukan citra. Bahkan humas dipandang cenderung bersifat tertentu bila terjadi krisis yang terjadi pada institusinya. Pada sisi lain, ada keengganan dari para praktisi humas terhadap kelompok wartawan karena media dianggap cenderung memberitakan hal-hal yang bersifat negatif.

DSCN3635Padahal keduanya bukan merupakan kelompok yang harus bertentang. Seharusnya terjalin harmoni diantara para wartawan dan praktisi humas. Sejatinya mereka punya tujuan yang sama yakni menyampaikan informasi yang benar dan tepat.  Rachmat berusaha menjembatani perbedaan yang ada dengan melakukan transfer dengan mengadaptasi Excellence Public Relations Theory yang diciptakan James Grunig, dkk setelah melakukan riset terhadap 321 perusahaan  di Inggris, Amerika dan Kanada selama 15 tahun (Grunig, Dozier, dkk, 2008). Pengabdian ini sendiri dilakukan pada bulan Oktober 2014. Rachmat menyosialisasikan tentang Model Humas yang ekselen  dan Model Objetifitas Pemberitaan pada 20 praktisi humas dan 20 wartawan di Kota Malang bertempat di FISIP Universitas Brawijaya, Malang. 

Berdasarkan pengabdian masyarakat yang dilakukan kemudian dilanjutkan dalam penelitian, Rachmat menyimpulkan bahwa praktisi Humas masih berpendapat bahwa wartawan lebih menyukai berita buruk karena bad news is good news. Wartawan juga masih melihat bahwa humas dipandang sulit memberikan informasi secara terbuka, terutama saat ada informasi yang kurang baik mengenai lembaganya. Pengabdian yang dilakukannya telah mereduksi pandangan negatif yang ada. Memang belum pada tataran implementasi, tetapi kedua kelompok tersebut cenderung berpikir untuk menjalin hubungan yang baik.

SIMPLE SIDE TAB