Malang, 09 Juni 2015 – Pemerintah Indonesia mendorong sebanyak mungkin pihak-pihak dari berbagai profesi di Indonesia untuk membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Usaha ini dilakukan untuk menjawab kesiapan Indonesia dalam menghadapi persaingan dan tantangan globalisasi. Masyarakat Ekonomi ASEAN diprediksi akan menciptakan berbagai komunitas pemangku kepentingan yang mengarah pada aktivitias komunikasi, kolaborasi dan kompetensi. Pada akhirnya tantangan terberat Indonesia adalah pada komponen sumber daya manusianya. Keberadan SDM yang kompeten akan mampu memberikan keunggulan kompetitif bagi bangsa di tengah lingkungan persaingan global.

Workshop Lembaga Sertifikasi Profesi dan Uji Kompetensi Aspikom di gelar kemarin (8/06) dengan suasana penuh kehangatan. Semangat untuk membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi dan Uji Kompetensi ASPIKOM membuat diskusi dalam sesi pertama ini kian menarik. Beberapa pertanyaan dilontarkan kepada pembicara mengenai pengembangan kompetensi, persyaratan pembentukan LSP, serta hal-hal yang terkait dengan sertifikasi dan uji kompetensi.

Salah satu narasumber pada workshop ini adalah Prof. Dr. Richardius Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi mengatakan bahwa bukti kompetensi seseorang tidak hanya dilihat dari ijazah melainkan dengan sertifikat. Karena itu, kompetensi seseorang tersebut dapat dipastikan sebab mereka sebelumnya telah melalui beberapa proses uji kelayakan.

Sejalan dengan hal itu, Dr. Aqua Dwipayana, M.Si berpendapat bahwa penting untuk meningkatan kualitas SDM, membangun hubungan baik dengan para pihak terkait agar tercipta lingkungan yang strategis serta menciptakan pedomannya harus jelas bagi pengukuran profesional khususnya dalam bidang komunikasi. Hal tersebut dilakukan untuk menciptakan praktisi, lulusan dan akademisi yang kompeten.

Kompetensi berarti memiliki kualifikasi untuk melakukan proses pekerjaan tertentu. Kualifikasi tersebut diantaranya terdapat pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja. Syarat kepemilikan kompetensi dirumuskan dalam lima “S” yaitu standar, skema, sarana dan prasarana, SDM serta sistem. Lembaga yang dikatakan kompeten jika sertifikasinya menggunakan ISO 17 024. Sertifikat kompetensi bisa dipakai pendamping ijasah atau sebagai pengakuan pembelajaran lampau. Untuk mendapatkan sertifikasi itu harus melalui beberapa pengujian yang dilakukan oleh asesor.

“Tidak mungkin kampus menghasilkan orang-orang atau mahasiswa yang kompeten kalau dosen-dosennya tidak kompeten. Indeks Prestasi kadang tidak menentukan seorang itu berkompetensi, atau memiliki kompetensi yang mumpuni. Perusahaan butuh orang-orang yang punya kemampuan yang dengan kompetensi yang tinggi. Saya mengharapkan dikampus diajarkan bukan hanya didorong untuk menjadi mahasiswa dengan IP tinggi tapi juga harus didorong untuk berlatih mengasah diri untuk mencapai kompetensi.” Ungkap Dr. Aqua sambil menutup acara hari pertama dengan disambut tepuk tangan meriah peserta workshop.

SIMPLE SIDE TAB