Pergeseran Nilai Kesantunan dalam Komunikasi Interpersonal Termediasi Melalui SMS Pada Generasi Muda Indonesia

 

Penulis:

Ima Hidayati Utami dan  Maya Diah Nirwana

 

Telah dipresentasikan di Hong Kong pada tanggal 14 Nopember 2014 dalam

Asian Congress for Media and Communication  in Partnership with City University of Hong Kong , 13-15 November 2014.

Perkembangan teknologi komunikasi menyebabkan ranah komunikasi interpersonal tidak hanya terbatas dilakukan dalam bentuk tatap muka (face to face),  melainkan juga dilakukan melalui berbagai  media modern atau yang biasa disebut komunikasi interpersonal termediasi (mediated interpersonal communication), misalnya: SMS, e-mail, dsb.

Keterbatasan jumlah karakter yang bisa ditulis dalam setiap SMS membuat pengguna SMS berusaha mengembangkan kreatifitas berkomunikasi agar pesan yang disampaikan efektif dan dapat dipahami dengan baik oleh penerima pesan. Namun, kreatifitas tersebut seringkali menghasilkan variasi bahasa yang berbeda dengan  bahasa yang biasa dipergunakan dalam komunikasi secara konvensional, baik lisan maupun tertulis. Dari sisi kesantunan bahasa,  komunikasi termediasi juga dapat memicu penggunanya untuk mengabaikan  nilai-nilai sosial dan budaya serta lebih mengutamakan pada efektifitas pesan sehingga mereka seringkali mempergunakan bahasa simbol untuk memudahkan komunikasi. pesan-pesan yang disampaikan.

Di lingkungan kampus, SMS banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk berkomunikasi dengan dosennya dengan alasan praktis, mudah, dan murah. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti strategi kesantunan bahasa dalam komunikasi  mahasiswa-dosen melalui SMS dalam konteks akademik. Berdasarkan rekaman SMS mahasiswa yang dikumpulkan dari para dosen di lingkungan FISIP UB ditemukan  bahwa: (1) Dalam berkomunikasi melalui SMS, beberapa mahasiswa kurang mempertimbangkan strategi kesantunan sebagaimana dikemukakan oleh Brown-Levinson. Mereka banyak menerapkan strategi polos atau to the point  (bald-on strategy)  untuk mengekspresikan keinginan atau keperluan mereka tanpa mempertimbangkan  kepentingan dan aktifitas dosen atau dengan kata lain mahasiswa  telah melakukan tindakan yang mengancam muka (Face-Treatening Act/FTAs); (2) Mereka juga seringkali mengabaikan indikator-indikator strategi kesantunan bahasa, seperti: pemilihan ragam bahasa dan diksi yang kurang tepat; kurang mempertimbangkan  nilai-nilai kesantunan yang sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia yang mempertimbangkan perbedaan usia (age), power distance, kedekatan dalam berkomunikasi. Beberapa diantara mereka bahkan tidak mempergunakan sebutan sebagaiman layaknya seorang mahasiswa memanggil dosen (mereka menyebut mas/ mbak sebagai pengganti bapak/Pak, Ibu/Bu, khususnya pada dosen-dosen yang relative masih muda). (2) Melalui SMS, mahasiswa yang memiliki masalah personal dengan dosen ataupun  tidak sepaham dengan pendapat/keputusan dosen cenderung mengekspresikan keinginannya secara  lebih bebas, terbuka, dan to the point dibandingkan dengan komunikasi face to face; (3) Model bahasa tulis informal yang ditandai dengan pemakaian singkatan, emotikon, penghilangan huruf, pemakaian huruf besar di tengah-tengah kata dan ciri-ciri khas bahasa SMS lain, yang lazimnya dipakai anak-anak muda untuk berkomunikasi dengan teman mereka, juga dipergunakan mahasiswa untuk berkomunikasi dengan dosen mereka untuk keperluan akademik.

Masukan dari hasil konggres di Hong Kong, sebaiknya mahasiswa diarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan telpon resmi kantor selama jam kerja. Jika dosen bersedia dihubungi melalui telpon pribadi, sebaiknya tata tertib dan aturan berkomunikasi melalui telpon pribadi dibahas secara lebih detil dalam kontrak perkuliahan.

SIMPLE SIDE TAB