foto1MALANG: Kemampuan menggelar event bukan keterampilan instant. Melainkan harus dibangun melalui proses belajar yang panjang, dilandasi keberanian, dan kepercayaan diri yang tinggi. Kemampuan menggelar event secara efektif, juga perlu dibangun sejak dini, bisa dimulai dengan aktif di organisasi kampus.  “Agar berhasil, mau tidak mau kita harus berani mengeksekusi event yang telah direncanakan. Karena itu, kita perlu belajar. Kami dulu juga sebenarnya sudah aktif di organisasi MIXTH, salah satu LSO di kampus kita,” ungkap Owner Jingga Wedding Planner and Organizer, Errizal Eka Putra, di hadapan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UB Kelas PR on Media, Rabu (15/10).

Dalam forum sharing pengalaman di kelas Public Relations on Media itu, Errizal yang juga alumnus Ilmu Komunikasi UB, mengungkap, keterampilan menggelar event amat dipengaruhi kepercayaan diri anggota yang terlibat. “Jadi teman-teman harus percaya diri dalam mengeksekusi sebuah kegiatan. Kalau ragu, maka kegiatan itu akan sulit terlaksana,” tambah pria yang akrab disapa Rizal ini. Menurut Rizal, kepercayaan diri seseorang akan muncul seiring dengan semakin banyaknya pengalaman mengeksekusi event yang temanya amat beragam. Sesuai karakter Ilmu Komunikasi sebagai ilmu yang terbuka dan bias diterapkan di berbagai bidang kegiatan berbeda. “Menurut saya, Ilmu Komunikasi merupakan ilmu yang paling kompleks, luas. Komunikasi bias diterapkan di mana saja.Berhubungan dengan sosial, terkait marketing, bahkan politik. Karena itu harus banyak praktik,” papar dia. Mengingat luasnya cakupan Ilmu Komunikasi itu, Rizal menambahkan, laboratorium Ilmu Komunikasi yang sesungguhnya adalah di masyarakat. Sementara itu, Marketing Manager Jingga Wedding Planner and Organizer, Yenni Dwi Pratiwi, memaparkan hal serupa. Ia menuturkan pengalaman di lapangan, amat bermanfaat bagi setiap mahasiswa yang masih pada tahap belajar.

Pengalaman ketika terjun langsung di lapangan, seperti menemui klien yang bermacam-macam akan sangat membantu dalam merencanakan, melaksanakan, dan memecahkan masalah di sebuah event. Pada kenyataanya memang, yang penting dalam kerja sebuah tim ialah kemampuan memecahkan masalah yang harus dimiliki tiap anggota. “Pengalaman saya, bahkan, transkrip nilai saya tidak pernah dilihat. Yang dilihat justru kemampuan problem solver atau kemampuan memecahkan masalahnya. Jadi, ketika ada kasus. Ada masalah, kita harus bias cepat memberikan solusi,” ungkap Yenni. Yenni menambahkan, dengan memperbanyak terjun ke lapangan, maka secara otomatis akan menambah pengalaman berharga bagi mahasiswa. Mental juga akan semakin kuat, semakin percaya diri, karena terbiasa menemui klien yang sangat bermacam karakternya. “Pada pelaksanaannya, project leader kelompok itu yang harus pandai mengatur. Potensi dari setiap anggota harus dioptimalkan sesuai bidangnya,” tutur Alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB angkatan 2009 ini. Pada kesempatan yang sama, Creative Manager Jingga Wedding Planner and Organizer, Didit Agus Setyawan, menguraikan hal tidak kalah penting dalam melaksanakan sebuah event adalah perencanaan yang matang, juga semangat untuk bekerja secara efektif. “Kerja di event organizer amat dinamis. Harus siap bertemu dengan klien, dimanapun. Meskipun malam, kita bisa datang,” paparnya.

foto1_001Sementara itu, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya, Rachmat Kriyantono, menandaskan pentingnya semangat untuk senantiasa belajar. Mahasiswa perlu senantiasa aktif mengasah diri dengan ikut organisasi maupun bekerja di bidang industri komunikasi. “Yang penting percaya diri. Jangan pernah merasa minder,” katanya. Sikap dasar dalam proses belajar menyelenggarakan event, lanjut Kriyantono, adalah kemauan untuk aktif dalam menjalin relasi. Niat dasarnya ialah untuk menambah pengalaman dan mengasah kemampuan menjalin relasi dengan orang lain. “Jadi jangan setengah-setengah dalam mengerjakan tugas. Kemudian jangan lupa, teruslah belajar menulis,” pungkas peraih gelar doktor di bidang Komunikasi dan Public Relations ini. (fikri)

SIMPLE SIDE TAB