Kuliah Tamu

Dr. Jemma Purdey menyampaikan Kuliah Tamu Komunikasi Antar Budaya.

Pemberian beasiswa studi lanjut, pertukaran pelajar, dan pertukaran peneliti Indonesia-Australia merupakan perwujudan dari “soft power diplomacy” antar negara. Hal tersebut terungkap dalam kuliah tamu yang dilakukan oleh Dr. Jemma Purdey kepada mahasiswa kelas Inggris Jurusan Ilmu Komunikasi untuk mata kuliah Intercultural Communication pada Rabu, 22 Oktober 2014. Dr. Purdey mengatakan bahwa yang terpenting dari skema seperti ini adalah mengenai niat baik. Ia mengatakan “when asked about what is received by Austalian government is goodwill, we want to bring Indonesian leaders to the future, because we want to have influences” Dr. Purdey yang merupakan research fellow dari University of Deakin, Australia ini sedang berkunjung ke Universitas Brawijaya dalam rangka pengumpulan data untuk risetnya mengenai narasi para alumni universitas-universitas di Australia yang saat ini bekerja untuk pembangunan pendidikan di Indonesia.

Risetnya yang berjudul ’50 years of Papua New Guinean and Indonesian tertiary scholarships in Australia: an assessment of post-scholarship leadership, networks and linkages with Australia’ ingin menggali dampak dari beasiswa Australia bagi penerima yang sekaligus para pendidik di Indonesia dalam mengembangkan jaringan, kepemimpinan, dan hubungan dengan Australia.

Ketika ditanya oleh salah seorang peserta kuliah mengenai sentimen sebagian warga Indonesia dalam menjalin hubungan dengan Australia yang dianggap punya agenda tersembunyi, Dr. Purdey menjawab bahwa masalah prasangka akan tetap ada tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, namun juga masyarakat Australia. Namun, bentuk kerjasama jika dianggap lebih menguntungkan, banyak dari anggota masyarakat yang tetap akan mendukung. “Despite what the governments plan their things, people have their own stories” . Lebih lanjut, Dr. Purdey juga menggarisbawahi perbedaan budaya yang dialami oleh para mahasiwa Indonesia yang belajar di Austalia menyebabkan banyak dari mereka yang harus melakukan penyesuaian, bahkan penyesuaian juga terjadi ketika kembali dari Australia. Masalah pola pikir, jarak personal, bahkan tindakan rutin seperti antre dan berlalu lintas menjadi masalah gegar budaya yang sering dialami oleh para alumni ketika kembali ke Indonesia.

Fitri Oktaviani, yang merupakan pengampu mata kuliah ini, mengatakan pentingnya kuliah tamu bagi proses pembelajaran. “Kuliah tamu seperti ini sebaiknya dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa peserta, agar mereka dapat menggali informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya, diluar sumber yang mereka dapatkan secara rutin” ujarnya. Ditambahkan oleh Fitri bahwa sebenarnya mempelajari komunikasi antar budaya, bukan mengenai budaya siapa yang lebih superior dan lebih hebat, namun agar kita menyadari bahwa setiap budaya punya sistem keyakinan sendiri; yang bisa kita lakukan adalah saling menghargai dan memahami perilaku budaya lain dengan tetap mengambil kebaikan dari budaya yang berbeda tanpa kehilangan identitas kita sendiri.

SIMPLE SIDE TAB