Jumlah golongan putih (Golput) dalam pemilihan umum yang selalu tinggi membuat mahasiswa pasca sarjana Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Brawijaya Malang prihatin.

Untuk itu, mereka melakukan gerakan santri anti Golput, yang nanti akan dilakukan di seluruh pondok pesantren, khususnya di  wilayah Malang Raya.“Kita harapkan dengan adanya kampanye ini bisa menekan angka Golput. Bahkan, bisa mengalahkan calon pemenang,” kata Muhammad Irfan Anshori, Ketua Gerakan Santri Anti Golput, Jumat (17/1/2014).

Dia membeber data yang dimiliki terkait dengan jumlah Golput selama Pemilu sebelumnya. Baik itu Pilkada, Pileg, Pilgub maupun Pilpres. Menurut dia, rata-rata dari tiap Pemilu, jumlah Golput berkisar 35 hingga 40 persen.

Sedangkan sasaran sosialisasi selama ini, yang dilakukan penyelenggara Pemilu tidak ada yang baru. Seharusnya, tandas dia,  KPU sebagai penyelenggara melihat tempat-tempat strategis lainnya, yang mampu meningkatkan angka partisipasi pemilih.

Masih menurut dia, Ponpes memiliki potensi yang besar untuk menekan angka Golput. Mengingat jumlah santri di seluruh Indonesia mencapai 3,65 juta orang. Mereka   tersebar di 25 ribu pondok pesantren.

“Bayangkan, satu santri mampu mengajak dua orang saja untuk nyoblos, maka akan ada 10 juta lagi  suara yang terselamatkan. Ini saya kira sangat strategis,” tuturnya saat meluncurkan Gerakan Santri Ani Golput itu.

 

Irfan menegaskan, program yang baru pertama kali digagas di Indonesia tersebut, murni kegiatan sosial. untuk membantu “Kami hanya mengarahkan santri untuk menyampaikan hak pilihnya, bukan untuk mengarahkan memilih salah satu calon atau partai,” tegas dia.

Kegiatan tersebut sudah dilakukan di beberapa pesantren. Bahkan para santri nanti akan dinobatkan menjadi Laskar Anti Golput untuk membantu sosialisasi. “Kami juga sosialisasikan hal tersebut  melalui media sosial,” pungkas pria asal Jember ini.

Sumber: Lensa Indonesia

SIMPLE SIDE TAB