Skripsi menjadi momok bagi mahasiswa. Bahkan mitos-mitos tertentu kerap dialamat kepada karya ilmiah. Bayangan sulitnya skripsi telah membelenggu potensi yang dimiliki oleh mahasiswa. Keterbatasan sumber referensi, sulitnya merancang instrument penelitian, atau tidak adanya data pendukung kerap menjadi alasan skripsi tidak mudah untuk diselesaikan. Padahal hal ini belum tentu sepenuhnya benar. Hal-hal tersebut dapat diselesaikan dengan cara melakukan usaha secara terus menerus. Sulitnya merancang instrument penelitian juga kadang hanya sebatas persepsi mahasiswa. Masalah ini sebenarnya dapat teratasi dengan membangun komunikasi yang baik dengan dosen pembimbing. Data-data pendukung yang sulit diperoleh juga bukan menjadi alasan molornya masa studi. Tantangan ini semestinya dikonsultasikan dengan dosen pembimbing.

Ilusi sulitnya menyelesaikan sebuah skripsi sebenarnya karena mahasiswa kurang memahami masalah yang ingin diketahui. Kurang mampunya mahasiswa untuk mengelaborasi teori yang akan digunakan juga menjadi kendala mahasiswa menyelesaikan. Bahkan ketidaktepatan penggunaan metode penelitian menjadi alasan mahasiswa tidak maksimal mencapai tujuan penelitiannya. Mahasiswa yang kurang memahami tantangan ini sehingga kadang mengarahkan kepada alasan-alasan subjektif. Hal ini yang kemudian memunculkan mitos-mitos tersebut.

Berdasarkan pengamatan pendahuluan yang dilakukan, masalah objektif yang dihadapi mahasiswa berkisar pada proposal penelitian yang meliputi paradigm penelitian, penentuan masalah, membangun kerangka berpikir, menciptakan diskusi teoritis, dan metode penelitian. Ketidaksesuaian antara masalah, metode penelitian, dan kerangka berpikir ini kerap ditemui ujian-ujian skripsi. Ada mahasiswa yang mencoba melakukan penelitian kualitatif tetapi paradigm yang digunakan masih positifis. Mahasiswa yang melakukan penelitian kuantitatif juga mendapat kendala mengelaborasikan teori dalam penelitian kuantitatif.

Jawaban dari permasalahan tersebut sebenarnya telah dijawab dalam mata kuliah metode penelitian. Bahkan Jurusan Komunikasi menyediakan hingga tiga mata kuliah untuk mengkaji metodologi penelitian yakni metode penelitian sosial, metodologi penelitian komunikasi kuantitaif, dan metode penelitian komunikasi kualitatif. Mata kuliah-mata kuliah tersebut diharapkan mampu menunjang kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian. Kajian tersebut telah dirasa cukup memberikan pengetahuan penelitian kepada mahasiswa karena setiap topik dikaji secara mendalam. Bahkan tugas akhir pada masing-masing mata kuliah mahasiswa diajak untuk membuat sebuah penelitian. Hal tersebut merupakan usaha untuk memenuhi harapan agar mahasiswa terlatih melakukan penelitian.

Kenyataannya mahasiswa masih menghadapi kendala dalam mengimplementasikannya dalam pembuatan skripsi. Mitos-mitos ini kemudian coba diretas oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya. Usaha yang dilakukan dengan memberikan suplemen-suplemen kajian metodologi penelitian. Rachmat Kriyantono, Ph.D, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya, menginisiasi diskusi metodologi penelitian pada 21 Januari 2013. Doktor lulusan Edith Cowan University Australia ini menerangkan pendekatan dalam ilmu komunikasi. Pemahaman tentang pendekatan ini penting untuk dipahami oleh mahasiswa karena menentukan peneliti dalam melihat realitas.

Pemahaman terhadap realitas ini dipandang penting karena akan menentukan metode yang diambil oleh peneliti Rachmat, demikian sapaan akrab beliau, memberikan contoh tentang “kebersihan”. Realitas terhadap kebersihan ini dapat ditafsirkan dengan berbagai pendekatan. Misalnya sebuah langkah dapat dipandang oleh seseorang sudah memenuhi kriteria bersih karena tidak ada kotoran yang di lantai tersebut. Orang lain dapat menafsirkan bahwa lantai tersebut tidak bersih karena merasa masih ada najis pada lantai. Hal ini kemudian melahirkan perbedaan perilaku dalam memperlakukan lantai itu. Orang pertama bisa langsung memanfaatkan lantai tersebut untuk beraktifitas, tetapi orang kedua bisa mengepelnya terlebih dahulu.

Perbedaan pandangan dalam melihat realitas ini menjadi penting bagi seorang peneliti. Hal tersebut menentukan peneliti untuk menemukan masalah dan menentukan metode penelitian yang akan digunakan. Penelitian kualitatif yang berangkat dari pendekatan konstruktifis. Konstruktivisme menyatakan bahwa orang-orang menciptakan pengetahuan agar berfungsi pragmatis dalam kehidupan. Orang memproyeksikan dirinya kepada apa yang dialaminya. Kaum konstruktivis percaya bahwa fenomena dalam dunia dapat dikonseptualisasikan ke dalam berbagai cara, pengetahuan menjadi sesuatu yg berperan penting bagi seseorang untuk merekayasa dunia. Konstruktivisme sosial: menyatakan bahwa pengetahuan adalah produk dari interaksi simbolik dalam kelompok-kelompok sosial. Dengan kata lain, realitas adalah sesuatu yang dikonstruksi secara sosial dan merupakan produk kehidupan kelompok dan budaya.

Pada praktiknya pendekatan ini kerap kurang mampu ditafsirkan oleh peneliti khususnya mahasiswa menyelesaikan skripsi. Pendekatan ini tidak sepenuhnya digunakan oleh mahasiswa karena masih tercampur dengan pendekatan positifis. Pendekatan positifis melihat realitas yang nyata yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal, walaupun kebenaran pengetahuan tentang itu mungkin hanya dapat diperoleh secara probabilistik. Realitas dianggap berada di luar dunia subjektif ilmuwan. Dapat diukur dengan standard tertentu, digeneralisasi dan bebas dari konteks dan waktu.

Ketidaktepatan ini ditunjukan oleh penelitian-penelitian kualitatif mahasiswa yang masih menggunakan teori sebagai acuan dalam melakukan penelitian. Panduan wawancara pada penelitian kualitatif masih merupakan turunan dari sebuah teori. Padahal teori dalam penelitian kualitatif merupakan bagian dari membangun konstruksi berpikir peneliti dalam menafsirkan realitas. Hal ini tentu berbeda dengan cara bepikir pendekatan positifis yang menempatkan teori sebagai generalisasi realitas. Rachmat menyebut penelitian kualitatif yang masih menggunakan cara berpikir kuantitatif ini sebagai kuasi kualitatif.

Selain memberikan penjelasan penjelasan tentang pendekatan dalam penelitian komunikasi, Rachmat juga menjelaskan cara membuat latar belakang. Ia menerangkan dalam latar belakang harus memunculkan state of art dalam kajiannya (melihat bidang kajian dan mengenali perspektif, misalnya: kajian PR, peneliti mesti mendeskripsikan perkembangan kajian-kajiannya dan peta-peta pendekatan dalam bidang tersebut); mengaitkan dengan teori-teori spesifik kajian komunikasi yang terkait; dan review terhadap studi-studi terdahulu. Ia lebih lanjut menegaskan bahwa topik yang diteliti adalah sebuah realitas/fenomena/objek formal kajian komunikasi atau merupakan masalah komunikasi. Rachmat menambahkan latar belakang masalah harus ecara eksplisit menjelaskan bahwa eksplorasi literatur tersebut yang mendasari munculnya masalah yang diteliti atau yang mendasari munculnya kesenjangan sehingga penting diteliti. Menurutnya, esenjangan ini bisa terjadi dalam tataran teoritis/kajian teoritis atau bisa juga terjadi kesenjangan antara tataran teoritis dan praktis/empiris.

Kedua suplemen tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa melihat realitas. Pemahaman yang utuh terhadap realitas mendorong mahasiswa dapat memilih pendekatan dan metode yang digunakan. Penjelasan tentang kriteria-kriteria latar belakang masalah yang baik juga diharapkan mampu meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang cara membuat latar belakang masalah. Meningkatnya pemahaman mahasiswa tentang metode penelitian diharapkan mampu meningkatkan kualitas penelitian yang dihasilkan. Hal ini merupakan bagian mewujudkan visi Universitas Brawijaya menjadi World Class University.

SIMPLE SIDE TAB